Login Form
| MENCAPAI IKHLAS DENGAN TEKNOLOGI |
|
|
|
| Written by administrator | |||||
| Friday, 17 April 2009 09:57 | |||||
|
NIRMALA (Oktober 2005 - Laporan Utama) ![]() Hati yang ikhlas tak hanya menjauhkan kita dari stres dan penyakit. Tapi juga membuat hidup dipenuhi kedamaian, rasa syukur, dan berkah yang tak ada habisnya. Menariknya, mencapai ikhlas kini ada teknologinya. ..... IKHLAS bukanlah kata yang asing bagi kita. Karena ajaran agama juga mengajak kita untuk selalu ikhlas, baik dalam beribadah maupun dalam hidup. Tapi berapa banyak orang yang bisa menghayati makna ikhlas sampai ke dalam lubuk hatinya? Padahal sebenarnya, ikhlas adalah bagian terpenting dari pencapaian manusia. Di dalamnya terkandung makna kesabaran, kepasrahan, dan penerimaan, yang memungkinkan manusia semakin dekat dengan Tuhan. Ikhlas terletak pada niat di dalam hati. Karena itu belajar ikhlas bisa berarti belajar melihat dengan hati, mendengar dengan hati, dan tentunya mengikuti kata hati. Kedengarannya memang mudah saja, karena sejak kecil kita sudah sering mendengarnya dari lagu, nasihat orang tua, atau kata-kata para bijak. Hanya saja, kita tidak pernah tahu bagaimana cara mencapainya. Menuju kesempurnaan sebagai manusia Menurut Erbe Sentanu yang biasa dipanggil Nunu, pendiri Katahati Institute di Jakarta yaitu sebuah lembaga yang mengajarkan tentang ikhlas, teknologi ikhlas Katahati merupakan program aplikasi praktis pertumbuhan dan pengembangan diri manusia Indonesia. Teknologi ini merupakan hasil pergulatan panjang proses pencarian dan percobaannya selama hampir 20 tahun, yang secara otodidak menggeluti dunia pengem¬bangan diri (self development). la menggabungkan semua kekuatan budaya Timur dan Barat, serta ilmu pengetahuan dan agama yang dipela-jarinya, secara langsung melalui para jenius dari berbagai bidang dan latar belakang seperti Deepak Chopra, Sandy MacGregor, Brian Tracy, Shri Shri Ravi Shankar, Harry Palmer, Maharishi Mahesh Yogi, dan masih banyak lagi. Teknologi ikhlas ini merupakan perpaduan dari Neumscience, Quantum Physics, Evolutionary Biology, Chaos Theory, Brain Science, juga Science of the Mind dengan tuntunan bijak falsafah hidup dan keagamaan. Menurut Nunu, kesulitan mempelajari ikhlas adalah karena demikian sederhananya, sehingga pikiran kita malah sulit untuk mencerna. Selain itu, ikhlas memang aktivitas hati sehingga untuk memahaminya kita harus mengistirahatkan pikiran dan mulai berlatih menggunakan hati. Jelasnya memindahkan kesadaran kita dari otak ke dalam hati. Dan mencapai ikhlas, sekaligus kembali kepada fitrah dasar manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia, ternyata tekniknya sederhana saja. Yang perlu dilakukan hanyalah menghapus berbagai sifat ketidakmuliaan manusia yang sempat terprogram di dalam hati atau bawah sadar. Sifat ketidaksempurnaan ini terdiri dari berbagai nafsu yang menimbulkan perasaan serba tidak cukup, kekurangan, takut sukses atau sebaliknya, merasa lebih dari yang lain sekaligus takut gagal, dll. Dengan membersihkan sifat-sifat ketidaksempurnaan tersebut, maka secara otomatis kita akan kembali merasa dan mulai menikmati hidup yang penuh dengan kesempurnaan. Untuk sampai ke kesempurnaan hidup ini, kita bisa memulainya de¬ngan mengenali perasaan-perasaan kita. Perasaan adalah energi Lebih jauh, Nunu juga menjelaskan bahwa pada dasarnya perasaan adalah energi yang bergerak. Sifat energi adalah kekal, karena itu tidak bisa dimusnahkan, tapi dapat diubah menjadi bentuk energi yang lain. Atas dasar itu, kita bisa mengenali, menyadari, dan mengelola perasaan-perasaan kita. Dan satu hal penting yang perlu kita sadari adalah bahwa perasaan juga merupakan kunci untuk memahami diri kita dan menemukan diri yang sejati. Menurut Nunu, sebaiknya kita selalu melakukan segala sesuatu hanya dengan perasaan damai, menerima, dan berani. Karena itu akan membuat kita lebih bahagia dan efektif dalam kehidupan maupun karier. Tapi apa yang bisa dilakukan ketika kita terjebak oleh perasaan negatif. Biasanya yang dilakukan orang adalah mengabaikannya, dengan cara melakukan hal-hal lain yang dianggap lebih menyenangkan. Sayangnya, perasaan yang diabaikan ini hanya akan bersembunyi di alam bawah sadar dan suatu saat akan muncul kembali ke permukaan. Perasaan itu tidak akan lenyap sebelum dibebaskan. Begitu juga kalau perasaan negatif tadi kita ungkapkan atau ekspresikan langsung. Biasanya justru akan mendatangkan masalah yang baru, contohnya jika kita menonjok orang yang membuat kita kesal, hasilnya hanyalah orang itu akan membalas menonjok kita. Atau kalau tidak berani membalas, mungkin dia akan marah-marah. Jadi yang terbaik adalah dengan mengikhlaskan atau membebaskan perasaan itu. Dengan begitu, energi itu akan lenyap dan menyatu dengan diri kita. Rasa tak nyaman yang menyertainya pun akan lenyap. Mengenai tekniknya, Nunu menyebutnya sebagai meditasi rasa. Meditasi ini bisa kita lakukan setiap saat dan bermanfaat untuk membebaskan kita dari energi-energi negatif yang membuat kita merasa tidak nyaman dan berpotensi menimbulkan penyakit. Sehingga akhirnya dalam hati akan muncul perasaan bebas, ringan, dan benar- benar plong. Kita pun jadi mampu berpikir lebih jernih dan melihat tujuan hidup dengan lebih jelas. Damai dan bahagia karena ikhlas Satu hal yang pasti, keikhlasan akan mendekatkan manusia kepada kebahagiaan. Karena kebahagiaan sejati, yang merupakan salah satu getaran tertinggi di alam semesta, hanya bisa diternukan di dalam hati yang ikhlas. Begitu pula dengan kedamaian dan kesuksesan yang sejati. Jadi, sia-sia saja jika kita masih berusaha mencarinya di luar diri dengan memuaskan segala keinginan dan menutupi ketidakcukupan yang tidak berujung. Semua itu bisa dibuktikan dengan pengalaman para alumni Katahati yang telah mempraktikkan ikhlas dalam kehidupannya sehari-hari. Pada umumnya mereka semua memperlihatkan perubahanyang positif dalam kehidupannya. Simak saja penga¬laman Rani Badrir, seorang aktivis LSM yang tadinya perokok berat, setelah ikhlas ia menjadi mampu berhenti merokok dengan sendirinya. Juga Ferdi, pria muda yang sudah sedemikian lama tidak mampu memaafkan ayahnya karena masalah berat di antara mereka, setelah ikhlas menjadi begitu mudah memaafkan. Tak terhitung jumlah mereka yang mendapatkan kemudahan dalam hidup maupun kesuksesan dalam berusaha. Atau, terbebas dari masalah keluarga yang telah berlangsung lama. Begitu juga peningkatan dalam hal kesehatan, karena secara otomatis muncul pula kesadaran untuk mempraktikkan pola hidup dan pola makan yang sehat. Yudhi Sujana, seorang instruktur di Katahati juga menuturkan pengalamannya ketika membantu seorang ibu menurunkan berat badannya. Ibu tersebut telah lama berusaha menu¬runkan berat badannya dengan ber-bagai cara tapi tak satu pun yang bisa berhasil membuatnya langsing. Kalau-pun berhasil biasanya tidak bisa bertahan lama. Tapi dengan ikhlas, kini tubuhnya justru bisa menjadi langsing dan hal itu bersifat permanen. Nampaknya ikhlas memang tidak cukup hanya kita baca dan kita mengerti saja. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, setujukah Anda?(N)
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
back to [ TOP ]



