Login Form
| BERPIKIR EFEKTIF BERKAT MIND MANAGEMENT |
|
|
|
| Written by administrator | |||||
| Friday, 17 April 2009 10:10 | |||||
|
FIT (Maret 2000) ![]() Memberdayakan Pikiran, Memaksimalkan Potensi Diri Segaia keluhan dan masalah bersumber dari pikiran. Apabila pikiran Anda dikelola dengan baik, dapat memunculkan kekuatan yang sanggup membebaskan Anda dari berbagai masalah. ..... Saat Anda dilanda masalah, sesungguhnya itu berawal dari respons Anda terhadap apa yang pernah Anda lakukan. Masalah yang merupakan harnbatan yang terakumulasi, seringkali bermula dari harnbatan kecil saja namun dirasakan sebagai suatu kesulitan yangtak mudah dipecahkan. Apabila Anda punya cara pandang yang salah terhadap harnbatan dan menjadi suatu ‘gaya hidup’ Anda, maka masalah demi masalah seakan takjenuh menghampiri. Kondisi ini memicu kerasnya kerja jantung dan akibatnya Anda bisa kena stres. Menurut Erbe. Sentanu, Direktur Mind Management Center, sesungguhnya segala permasalahan itu muncul lantaran pikiran kita belum diberdayakan. Mind Management Centre (MMC), -semacam jasa pelatihan- yang berkantor pusat di Bintaro, Jakarta Selatan, menawarkan latihan-latihan untuk merangsang orang agar dapat mengatur pikirannya. ‘Klinik’ ini menggunakan suatu metode agar kita mampu mengelola pikiran, sehingga fungsi otak menjadi optimal dan keluhan tak lagi pernah terdengar. Usaha memberdayakan pikiran Dari berbagai pengamatan para ahli, diketahui ternyata banyak orang belum rnengoptimalkan potensi otaknya. Richard Leviton, seorang peneliti otak mencatat, baru sekitar 4 sampai 10 persen saja kapasitas otak yang kita gunakan. Terlebih di zaman kini di mana pekerjaan semakin terspesialisasi kita menjadi terbiasa berpikir sebatas bidang kita saja. Setiap hari kita disJbuki urusan rutin yang cenderung tak memungkinkan kita ‘menjenguk dunia lain’. Jika kondisi ini terus-menerus berlangsung, tanpa upaya untuk merambah pelbagai segi kehidupan yang dapat tnemperkaya kita, maka lambat laun otak menjadi tumpul. Potensi besarnya cuma mengendap dan tersembunyi di dasar diri. Padahal di situlah terletak kekhasan manusia dibanding makhluk lainnya. Apabila ciri khas itu tak dimanfaatkan, alangkah ruginya! Dilihat secara garis besar, pikiran manusia dapat dibedakan menjadi dua; conscious mind (CM) atau pikiran sadar (12%) dan subconscious mind (SCM) atau pikiran bawah sadar (88%). CM mampu mengakomodasi segala aktivitas sehari-hari termasuk ilmu pengetahuan (science). “Pada pokoknya, conscious mind memakai raga kita sebagai instrumen. la adaiah keinginan, de¬sire, merupakan insting, yang meliputi 4 komponen, yaitu rasa ingin rnakan minum, tidur, rasa takut atau cemas, dan seksualitas. Rangsang-an atau impuls yang ditangkap panca indera rnenimbulkan suatu rasa, lalu keinginan, dan action,” ulas dr. Bambang Setiawan, SpB & SpBS, ahli bedah umum dan syaraf R5. Fatmawati, Jakarta yang juga aktif di Pusat Pelatihan Meditasi Anand Ashram. Aktivitas yang rutin dilakukan, juga pola hubungan sosial yang terbentuk cuma memanfaatkan bagian permukaan pikiran (CM) ini. Akibatnya, apabila seseorang terbentur hambatan, acapkali dianggap sebagai masalah, karena pikiran tak lagi mampu mencernanya. Padahal sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya di dunia ini, pikiran manusia tidak hanya sebatas itu. Masih ada SCM yang jauh lebih besar prosentase dan kemampuannya. SCM merupakan pikiran bawah sadar di mana segala ingatan, kebiasaan, rencana, dan keingi¬nan tersemai dan tumbuh menjadi kenyataan. “Seperti tanah pertanian, apa pun yang ditanam bisa tumbuh subur di sini,” Sentanu beranalogi. Segala yang tertanam di dalam SCM meru¬pakan unsur pembangun self image atau citra diri yang diyakini sebagai kepribadian seseo¬rang. Citra diri Anda terbangun melalui proses yang dimulai dari pengalarnan masa kecil yang tertanam dalam alam bawah sadar, termasuk pula anggapan orang tentang Anda yang se-cara tak sadar Anda tanamkan dalam diri. “Segala hal yang bersifat keindahan atau berintikan ‘rasa’ dioperasikan oleh otak kanan,” jelas Pak Nunu. Sayangnya, seringkali seseorang menyangka bahwa apa yang ada pada diri, citra dirinya, me¬rupakan suatu yang tetap dan tak dapat diubah. Karena itulah secara tak disadari pula kapasitas SCM-nya mengendap dan tersembunyi. Pada¬hal ‘lahan pertanian’ ini dapat diolah dengan cara mengganti ‘tanaman’ yang tak disukai de¬ngan yang disukai saja. Artinya, anggapan yang kurang baik mengenai diri sendiri bisa kita ubah menjadi lebih baik, sesuai keinginan. Sentanu menyebut prosesnya sebagai SCM reprogramming. Apapun yang Anda tanam di lahan ini akan tumbuh dan berkembang. Asal bersungguh-sungguh dan cukup sabar, sebab bagaimanapun butuh proses yang tidak sekejap. “Manusia tidak seperti komputer. Kalau komputer mudah saja di-reinstall, program lama di-hapus…, selesai. Menghapus program dalam otak manusia yang melekat dalam alam bawah sadar tidaklah mudah. Harus intens, butuh waktu. Inilah yang disebut self-transformation,” jelas budayawan Dr. Komaruddin Hidayat, Direktur Eksekutif Yayasan Pararnadina. “Karena itu, sebaiknya diadakan juga aktivitas tambahan di luar paket yang disediakan oleh banyak pusat pelatihan pikiran dan meditasi, agar efisien. Misalnya pertemuan rutin dengan peserta. Bisa juga diberikan semacam bacaan penuntun secara berkala, atau kaset. Itu semua se-bagai maintaining, agar dapat mempertahankan bahkan meningkatkan apa yang sudah diperoleh,” tambahnya. Karena begitu tingginya potensi yang dikandung SCM, maka apabila ia dieksplorasi, bukan mustahil akan muncul daya pikir yang powerful. Dan kondisi ini bukan tak mungkin menghantarkan seseorang berada dalam suasana superconcsious. Di mana seluruh daya pikir terpakai secara seimbang. Melatih pikiran bawah sadar Untuk dapat memunculkan kekuatan SCM, diperlukan pemahaman akan tahap-tahap kesadaran pikiran (brain¬wave state). Dalam program paket yang ditawarkan MMC, yakni Mind Management Training atau disebut juga Work and Playshop, peserta diperkenalkan tahap-tahap ini.Tahap beta atau the doing action state, alpha atau relaxation state, theta atau creativity and inspiration, dan delta atau deep dreamless sleep. Delta adalah tahap terdalam di mana seseorang dikatakan telah memunculkan kekuatan pikiran bawah sadarnya secara penuh karena ia mernbiarkan filter antara CM dan SCM-nya (Reticu/ar Activating System) terbuka. Dengan begitu pemunculan SCM menjadi lebih fleksibel. Kebalikannya, yakni beta, adalah tahap di mana seseorang hanya melakukan aktivitas sehari-hari yang menggunakan fisik dan rasio karena ia membiarkan filternya tertutup. Latihan-latihan yang terangkum dalam paket berbentuk permainan. Sifatnya membebaskan imajinasi dan melatih kepekaan serta ketajaman alam bawah sadar. Disertai iringan musik klasik peserta diminta berpasangan dan dibebaskan berkomunikasi dua arah secara terbuka untuk saling menceritakan hal yang baik dan tak baik tentang diri sendiri. Lalu digelar latihan untuk membuktikan bahwa mereka dapat mengatur pikiran sendiri dengan cara mengirimkan energi pikiran mereka itu ke arah sebuah cincin yang digantungkan pada sehelai benang, sehingga cincin tersebut bergerak sesuai perintah atau kemauan pikiran masing-masing peserta. Dengan iringin musik dinamis yang menghentak, pe¬serta juga diberikan latihan-latihan gerakan fisik untuk merangsang keseimbangan aktivitas otak kanan (bagian otak yang berhubungan dengan rasa, contohnya seni dan sastra) dan kiri (bagian otak yang bertanggung jawab pada aktivitas kuantitatif dan terstruktur}. Dapat dikatakan otak kanan merupakan ‘pintu’ terdekat menuju pemun¬culan SCM. Kalau selama ini kita terbiasa lebih banyak mempergunakan otak kiri dalam kegiatan sehari-hari, maka kita dapat meningkatkan kualitas hidup dengan menyeimbangkan keduanya. Dengan begitu kekuatan SCM bisa naik ke permukaan. Para peserta training juga dibebaskan mengungkapkan sesuatu lewat gambar dan warna dengan mendengarkan beberapa instruksi. Dari sini peserta dapat mem¬buktikan bahwa dengan menghayati satu pekerjaan, bukan berarti pikiran peka hanya pada pekerjaan itu, melainkan juga terhadap situasi sekitarnya. Sebab ketika sedang asyik menggambar dan mewarnai, terbukti peserta juga dapat mendengarkan dan memahami instruksi yang diberikan. Latihan atau praktek memang merupakan unsur yang tak boleh ditinggalkan. Komaruddin memaparkan, “Ada be¬berapa hal yang perlu diperhatikan agar aktivitas kelompok semacam ini efektif, yaitu pertama, perlu penjelasan kognitif teoretis. Bagi orang kota, sulit mengikuti tanpa pertanggungjawaban teoretis. Karena itu, ilmu psikologi dan filsafat diperlukan untuk meyakinkan orang. Juga perlu adanya praktek agar peserta dapat rnengalami sendiri apa yang diinformasikan. Ini melibatkan olah batin dan tubuh. Selain itu juga ada kemauan serta kesungguhan.” /Henny Purnama S. Oleh-Oleh Peserta Pelatihan Aldin Hardjasoemantri (31 tahun, Musisi/Pianis): “Kita bisa ‘menyetir’ masaiah.” Karena ingin memperbaiki kualitas kehidupan spiritual, maka .saya ikut program ini. Saya jadi lebih ‘pede’. Lebih enteng dan merasa skill saya bertambah. Ternyata dalam diri setiap orang ada power luar biasa. Sub¬conscious yang 88°/o itu mampu melakukan perubahan yang be¬sar sekali dalam kehidupan kita. Dengan mengolah yang 88% ini, kita lebih fokus. Nggak perlu melakukan apa yang nggak perlu. Kita dapat memprogram apa saja yang kita mau. Saya jadi lebih riieks dan tidak menganggap masalah yang ada sebagai masalah be¬sar. Dulu saya memang sempat kacau, tetapi saya pikir, mengapa saya ‘disetir’ oleh masalah-masalah dunia? Mengapa bukan saya yang menyetir masalah-masalah itu? Setelah mengikuti Mind Management piayshop, saya menjadi seperti aliran sungai, mengalir tenang. Tidak lagi berusaha melawan atau menolak keras masalah. Kalau kita menghadapi suatu masa¬lah, lalu kita resist, bertahan atau menolak, maka kita akan sakit, menimbulkan beban di hati. Lebih baik hadapi, masuki, dan selesailah masalah itu. Sebagai pemain dan pengajar piano, saya menjadi lebih bisa mendalami pemikiran murid saya. Oh, anak ini kesalahannya di sini. Oh, anak ini sebetulnya perlunya ini, bukan itu, buat apa saya kasih yang itu. Lukita (52 tahun, ibu rumah tangga): Saya merasa lebih sabar dan bisa mengendalikan diri. Di situ kita memang diajarkan untuk selalu berpikir positif. Bahkan sama musuh pun kita bisa tidak sakit hati. Workshop ini melatih ingatan dan pemikiran kita menjadi murni. Zacharias Adiwijono (62 tahun, Direktur PT Guna Elektro): “Merasa lebih muda…” Di sini kita diajarkan bermeditasi, berdoa rnenurut agama masing-masing, berkreasi, dan sebagainya. Pelajaran yang diberikan dalam training ini harus sering dilatih kem¬bali di rumah. Percaya nggak, setelah ikut program ini saya merasa jadi lebih muda! Kalau dulu saya kerja butuh energi 100 misalnya, sekarang curna 50, jadi saya bisa menghemat energi untuk diri sendiri. Karena itu, I feel younger. Padahal saya dulu sempat menertawakan Pak Nunu, Iho! Eh, ternyata apa yang dia ucapkan benar. Piryanti Sjarif (36 tahun, Bussines Manager Service Quality Centre, Jakarta): “Tinggal selangkah lagi.” Awalnya saya nggak begitu tertarik mengikuti workshop ini. Tetapi setelah sedikit ba¬nyak mendapat informasi, saya ingin tahu dan akhirnya ikut juga. Pekerjaan yang saya geluti sekarang menuntut saya untuk banyak berhubungan de¬ngan klien. Kalau sebelum ikut MM Workshop, saya sering merasa ada konflik yang muncul saat harus berhadapan dengan berbagai macam orang dari beragam karakter, sekarang nggak pernah lagi!. Karena saya selalu melihat apa pun dari segi positifnya. Saya menerapkan prinsip positive thinking seperti yang telah diajarkan. Pernah secara nggak sadar saya menemukan coretan yang saya buat ketika baru saja selesai mengikuti MM training beberapa waktu lalu. Ternyata keinginan yang saya cantumkan dalam catatan harian itu telah tinggal selangkah lagi tercapai. Kini saya sedang berada di jalan rnenuju terwujudnya keinginan itu!
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
back to [ TOP ]



