Login Form
| DI TITIK NOL |
|
|
|
| Written by administrator | |||||
| Saturday, 30 January 2010 21:51 | |||||
|
Dikutip dari Koran REPUBLIKA » Berita Utama Minggu, 29 Juni 2008
Ikhlas adalah Kunci kebahagiaan juga Keajaiban
Dokter angkat tangan. Dan, Endrasari pun memulai kehidupan yang 'sumbing': Ia mesti menenteng tabung oksigen ke mana-mana sebab dadanya kerap digodam sesak hebat. Biang keladinya: Bronchitis akut. Penyakit paru ini tak hanya mengutil berat badan Endrasari, juga memaksa dia meneguk 12 jenis obat selama setahun.
Dan, dokter pun angkat tangan. Lusinan ramuan kimia dari apotek bagaikan tak bertuah. Sebab, seperti diakui Endrasari dalam buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, penyakitnya bersifat psikosomatis: Tidak berasal dari serbuan virus atau bakteri, melainkan berasal dari pikiran. Dokter menyuruh dia menyembuhkan luka batinnya dahulu. Jika ingin pulih.
Nur Sonia (27 tahun) akhirnya pulih. Dibekap frustrasi selama tujuh tahun, yang berujung rontoknya kuliah dia pada sebuah PTN favorit di Bandung dan sering sakit-sakitan pula, mantan bintang kelas saat SMA ini sukses meretas kuldesak jalan buntu kehidupannya. Ia melakoni satu hal: 'Detoksifikasi' hati. Ia buang seluruh racun masa lalunya. Ia gulung filmfilm negatif masa mendatang. Kemudian, ujar Sonia kepada Republika Jumat (27/6), ''Saya serahkan diri saya seluruhnya kepada Sang Pemilik diri saya.''
Ikhlas. Kembali ke titik nol. Hasilnya? Sebuah paradoks. Sikap ikhlas yang sebelumnya ia anggap sebagai simbol kelemahan justru memberinya kekuatan subtil. Dalam ikhlas, kata Sonia, ia justru merasa lebih perkasa dalam menguasai diri. Tidak rentan digelisang- gelisut resah. Lebih kebal.
Kuncinya adalah: Manakala kita memasrahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, saat itu pula pupus segala cemas. Kita menjadi lebih kuat. Mengapa? Karena urusan kita sudah diserahkan kepada Sang Maha Berkehendak. ''Biarlah Dia yang mengatur. Kita yang melaksanakan keinginan- Nya. Sebab, bukankah Dia juga Maha Pemberi Petunjuk? '' ujar Sonia. Apakah itu berarti pasrah?
Di sinilah uniknya. Ketika terasuk rasa ikhlas, secara otomatis, Sonia justru merasa intuisinya meningkat tajam. Lebih bijaksana. Lebih mengenali diri sendiri. Lebih cerdas. Lebih kreatif. Dan, pada gilirannya: Lebih produktif. ''Sekarang saya sudah bisa bekerja. Di perusahaan asuransi,'' tutur dia semangat. Selamat tinggal jelaga masa lalu!
Belakangan Endrasari juga mengucapkan sayonara buat penyakit bronchitis akutnya. Hanya sikap ikhlas bukan lusinan obat kimia yang kuasa menanggalkan siksa radang parunya itu. Endrasari kini tak lagi mesti memboyong tabung oksigen ke mana-mana. ''Saya baru tahu semua penyakit datang dari pikiran.''
Membikin imunitas tubuh meningkat, pembuluh darah terbuka lebar, detak jantung stabil, dan kapasitas indera meningkat. Orang ikhlas, ujar Erbe,''Sehat jiwa dan fisiknya.'' Ikhlas, karenanya, adalah kunci jika bukan prasyarat bagi kebahagiaan.
Jika kita meneropong lewat elektroensefalogram (EEG), kata Erbe, tampak bahwa otak memancarkan gelombang sesuai kondisi jiwa seseorang. Dimanakah kebahagiaan? Teknologi mutakhir menunjukkan: Rasa bahagia membentang antara panjang gelombang alfa dan theta pada otak. Inilah zona ikhlas.
Zona ikhlas berada di frekwensi 8 Hz hingga 13,9 Hz atau alfa. Orang yang sedang rileks, melamun, atau berkhayal, berada dalam frekwensi ini. Anak-anak balita frekwensinya selalu berada dalam posisi alfa karenanya mereka selalu jujur, polos, dan tak pernah larut bersedih. Begitu murni.
Zona ikhlas juga terbentang di antara frekwensi 4 Hz hingga 7,9 Hz atau theta. Dalam kondisi ini pikiran menjadi amat kreatif dan inspiratif. Pikiran juga terasa khusyuk, rileks yang dalam, hening, dan amat intuitif.
''Manakala tahu gelombangnya mudah bagi kita menemukan zona kebahagiaan itu,'' tutur Erbe, penemu teknologi Quantum Ikhlas yang salah satu produknya adalah compact disc DigitalPlayer guna mengkondisikan otak menggapai zona ikhlas.
Dan, jangan anggap enteng sikap ikhlas ini. Pengalaman Nur Sonia menunjukkan: Sekali kita melangkah ke zona ikhlas, kita bakal terdorong menjadi orang baik menjauhi prasangka dan selalu berpikir positif. Nah, dari sinilah garis tangan Anda mulai bergeser.
Dengan berpikir positif, maka hal-hal positif otomatis akan menghampiri kita. Demikian sebaliknya. Itulah Hukum Daya Tarik Menarik (The Universal Law of Attraction) yang memiliki penjelasan ilmiahnya dalam fisika kuantum. Dan kita, menurut Erbe, adalah apa yang kita pikirkan (positif atau negatif).
Usai menikah selama enam tahun, Erbe akhirnya divonis dokter aspermatozoa, tak bisa memiliki keturunan. Dan, Erbe menyikapinya meski awalnya tentu terkejut dengan ikhlas. ''Mengucapkan alhamdulillah dalam hati memberi saya ketenangan dan kekuatan,'' ujarnya.
Tapi kemudian ikhlas memiliki logikanya sendiri. Dalam penyerahan diri kepada Tuhan, Erbe membayangkan bahwa suatu hari ia akan dikaruniai buah hati. Visualisasi tu dilakukannya dalam kondisi otak alfa berada di zona ikhlas secara tekun dan tawakal.
Hingga suatu hari ia berkonsultasi ke dokter. Sembari memandangi hasil laboratorium Erbe, dokter tersebut menggelengkan kepala. ''Ini tidak mungkin. Dari nol persen (spermatozoa) menjadi 30 persen dalam tiga minggu? Tidak mungkin.'' Kini Erbe memiliki putra bernama Shankara Premaswara. mg17/imy/quantumikhlas
4 GELOMBANG OTAK
Beta (14 Hz - 100 Hz)
Alfa (8 Hz -13,9 Hz)
Theta (4 Hz - 7,9 Hz)
Delta (0,1 Hz - 3,9 Hz)
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||
| Last Updated on Saturday, 30 January 2010 22:02 |


